Belajar Menjadi Sahabat bagi Anak Yatim Bersama Program BesTeam Dompet Dhuafa
Sebagai seorang ibu, saya percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan meraih cita-cita mereka. Namun kenyataannya, tidak semua anak memiliki perjalanan hidup yang mudah. Ada anak-anak yang harus tumbuh tanpa sosok ayah dan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kesempatan untuk mengembangkan potensi diri.
Karena itulah saya merasa senang sekaligus mendapatkan banyak pelajaran saat menghadiri Press Conference Peluncuran Program BesTeam (Bestian Sama Yatim) yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa. Program ini hadir sebagai gerakan kolaboratif yang mengajak masyarakat untuk menjadi sahabat bagi anak-anak yatim Indonesia.
Bukan sekadar memberikan bantuan sesaat, BesTeam mengajak kita untuk hadir dan membersamai perjalanan tumbuh mereka agar mampu menjadi generasi yang mandiri, percaya diri, dan berdaya.
Acara yang Penuh Makna dan Harapan
Acara dibuka dengan penampilan anak-anak yatim penerima manfaat Dompet Dhuafa yang membawakan musikalisasi puisi tentang harapan dan masa depan. Penampilan tersebut menjadi momen yang sangat menyentuh. Melihat mereka berdiri dengan penuh semangat membuat saya semakin yakin bahwa setiap anak memiliki mimpi besar yang layak untuk diperjuangkan.
Yang menarik, seluruh rangkaian acara memang dirancang dengan konsep BesTeam Connection, di mana semua pihak yang hadir memiliki keterkaitan nyata dengan isu anak yatim, baik sebagai penggerak program, mitra strategis, public figure, maupun penerima manfaat.
Acara dipandu oleh Aiman Ricky yang juga memiliki latar belakang sebagai seorang yatim. Kehadirannya memberikan warna tersendiri karena pesan-pesan yang disampaikan terasa lebih dekat dan personal.
Mengenal Lebih Dekat Program BesTeam
Dalam sesi pemaparan program, Bapak Widodo selaku Ketua BesTeam 2026 menjelaskan bahwa BesTeam merupakan singkatan dari Bestian Sama Yatim. Filosofinya sederhana namun sangat bermakna, yaitu mengajak masyarakat menjadi "bestie" atau sahabat bagi anak yatim.
Program ini dibangun berdasarkan empat nilai utama:
Best Heart
Best Mind
Best Future
Best Impact
Keempat nilai tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan seperti Beasiswa Yatim, Kesehatan Anak Yatim, Yatim Berdaya, Gemilang Anak Indonesia Timur, hingga Bright Generation.
Menurut saya, pendekatan ini sangat menarik karena tidak hanya fokus pada bantuan materi, tetapi juga pengembangan karakter, pendidikan, kesehatan, dan masa depan anak-anak yatim secara berkelanjutan.
Pentingnya Pendampingan Jangka Panjang
Dalam kesempatan yang sama, Pak Widodik juga menyampaikan pentingnya membangun ekosistem kepedulian bagi anak yatim Indonesia.
Beliau menjelaskan bahwa anak yatim tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat, tetapi juga pendampingan jangka panjang agar mereka memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kesempatan yang lebih baik di masa depan.
Pesan ini sangat membekas bagi saya. Karena sering kali kita hanya fokus pada bantuan sesaat, padahal yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak tersebut dapat terus berkembang dan memiliki masa depan yang cerah.
Perspektif Seorang Ayah dari Teuku Wisnu
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian tentu saja ketika berbagi pandangannya sebagai seorang ayah.
Tengku Wisnu menyampaikan bahwa setiap anak berhak mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Sebagai orang tua, beliau mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap keberadaan anak-anak yatim di sekitar kita.
Menurutnya, dukungan tidak selalu harus dalam bentuk materi. Kehadiran, perhatian, dan kepedulian juga dapat menjadi energi besar bagi anak-anak untuk tetap percaya diri dalam meraih cita-cita mereka.
Pesan tersebut terasa sangat relevan dan mengingatkan saya bahwa kepedulian bisa dimulai dari lingkungan terdekat.
Kolaborasi Bersama Gramedia untuk Pendidikan Anak
Acara ini juga menjadi momentum peluncuran kolaborasi antara Dompet Dhuafa dan melalui program Happy Family Coloring dengan tema Menyebarkan Harapan Melalui Alat Tulis Sekolah ke Seluruh Penjuru Negeri.
Dalam pemaparannya selaku General Manager Gramedia, Ibu Elizabeth Driemirda menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengajak keluarga Indonesia untuk berbagi sekaligus menanamkan nilai empati kepada anak sejak dini.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui penggalangan donasi paket belajar yang nantinya akan disalurkan kepada anak-anak yatim dan dhuafa di berbagai daerah.
Bukti Nyata Dampak Program
Momen yang paling mengharukan bagi saya adalah sesi testimoni dari Rahmad Gustaf Kurniawan yang merupakan Alumni Awardee Beasiswa Youth Ekselensia Dompet Dhuafa
Ia menceritakan perjalanan hidupnya sebagai anak yatim, berbagai tantangan yang dihadapi, hingga bagaimana dukungan dan pendampingan dari program Dompet Dhuafa membantu dirinya berkembang dan meraih berbagai pencapaian.
Cerita tersebut menjadi bukti nyata bahwa ketika seorang anak mendapatkan kesempatan dan pendampingan yang tepat, mereka mampu tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menyalakan Lentera Harapan Bersama
Puncak acara ditandai dengan simbolis peluncuran Program BesTeam melalui prosesi menyalakan "Lentera Harapan" bersama anak-anak yatim.
Bagi saya, momen ini bukan sekadar seremoni. Lentera tersebut menjadi simbol bahwa harapan anak-anak yatim akan terus dijaga dan diterangi oleh banyak pihak yang peduli terhadap masa depan mereka.
Saya pulang dari acara ini dengan satu pemahaman baru: memuliakan anak yatim bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang membersamai perjalanan mereka menuju masa depan yang lebih baik.
Semoga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk menjadi bagian dari BesTeam dan ikut menyalakan harapan bagi anak-anak yatim Indonesia.
Karena setiap anak berhak memiliki kesempatan yang sama untuk bermimpi, belajar, dan meraih masa depan yang gemilang.







Komentar
Posting Komentar