Navigasi Moderasi di Era Digital: Melindungi Generasi dari Infiltrasi Ekstremisme
Di era serba digital, kita hidup berdampingan dengan algoritma. Scroll pagi sebelum bangun, scroll malam sebelum tidur. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube bukan cuma tempat hiburan, tapi juga ruang belajar, berdiskusi, bahkan membentuk cara pandang kita terhadap dunia
Tapi di balik konten estetik, video motivasi, dan thread edukatif, ada juga celah infiltrasi ekstremisme. Tidak selalu datang dalam bentuk ceramah keras. Kadang justru hadir lewat konten yang relatable, potongan video singkat, atau narasi yang terasa “paling benar”. Karena itu, moderasi jadi penting. Bukan untuk membatasi, tapi untuk menjaga
Ketika Algoritma Membentuk Cara Pikir
Algoritma akan terus menyajikan konten yang sesuai dengan apa yang kita sukai. Kalau kita sering menonton konten bernuansa kemarahan atau polarisasi, maka itu yang akan terus muncul. Lama-lama kita merasa seolah hanya ada satu kebenaran
Padahal dunia jauh lebih luas dari timeline kita. Infiltrasi ekstremisme sering dimulai dari rasa penasaran. Lalu berkembang menjadi keyakinan bahwa kelompok tertentu selalu salah, sementara kelompok kita selalu benar. Jika tidak disadari, ini bisa mengikis empati dan toleransi
Moderasi Itu Relevan dan Keren
Banyak yang mengira moderasi itu kaku dan membosankan. Padahal justru sebaliknya. Moderasi itu tentang keseimbangan. Tentang tetap punya prinsip, tapi tidak kehilangan empati
Dan menariknya, pendekatan ini juga digaungkan dalam kegiatan “Mabar Ramadan: Navigasi Moderasi di Era Digital – Melindungi Generasi dari Infiltrasi Ekstremisme” yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Subdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Direktorat Urusan Agama Islam
Acara ini dikemas dengan cara yang dekat dengan Gen Z. Ada talkshow tentang radikalisasi di game online seperti Roblox, sampai diskusi santai menjelang berbuka. Artinya, isu serius pun bisa dibahas dengan cara yang fun dan relate
Ini membuktikan bahwa nilai keagamaan dan moderasi tidak harus selalu disampaikan dengan cara yang berat
Pesan Tegas dari Pak Dirjen dan Pak Direktur
Acara ini dihadiri oleh Pak Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M. Ag. Selaku Dirjen Bimas Islam Kemenag RI dan Pak Dr. H. Arsad Hidayat, Lc., M.A (Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Ditjen Bimas Islam Kemenag RI) yang memberikan sambutan sekaligus penegasan penting tentang urgensi moderasi di era digital
Dalam sambutannya, Pak Dirjen menekankan bahwa ruang digital kini menjadi “medan baru” penyebaran paham ekstrem. Jika dulu radikalisme banyak menyebar melalui pertemuan fisik atau forum tertutup, kini infiltrasi bisa masuk melalui media sosial, ruang diskusi online, bahkan permainan digital
Beliau menegaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan, melainkan menjaga agar ajaran agama tetap berada di jalur kemaslahatan. Generasi muda harus dibekali dengan literasi digital dan pemahaman agama yang komprehensif agar tidak mudah terpengaruh narasi yang memecah belah
Sementara itu, Pak Direktur dalam sambutannya menyoroti pentingnya kolaborasi dan pendekatan yang relevan dengan Generasi Z. Menurut beliau, dakwah dan edukasi keagamaan tidak bisa lagi hanya bersifat satu arah. Perlu ruang dialog, partisipasi, dan pendekatan kreatif agar pesan moderasi benar-benar sampai
Beliau juga mengingatkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan. Namun perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling meniadakan. Justru di situlah pentingnya nilai toleransi dan empati
Melindungi Diri di Era Digital
Supaya tetap aman dari infiltrasi ekstremisme, ada beberapa hal yang bisa kita biasakan:
Jangan mudah terprovokasi konten yang memancing emosi
Cek sumber informasi sebelum share
Berani berdialog tanpa harus menyerang
Pilih komunitas yang membangun, bukan yang menghasut
Kita tidak bisa mengontrol semua konten yang muncul di beranda. Tapi kita bisa mengontrol respon kita
Mari Terhubung dan Terus Belajar
Upaya penguatan moderasi beragama akan terus berjalan dan membutuhkan partisipasi aktif generasi muda. Untuk mendapatkan informasi, konten edukatif, dan update kegiatan seputar isu keagamaan dan moderasi, jangan lupa mengikuti akun Instagram @bpkjurais dan @urusanislam
Ruang digital bisa menjadi tempat yang rawan, tapi juga bisa menjadi ruang yang mencerahkan. Semuanya bergantung pada bagaimana kita menggunakannya
Melalui kegiatan seperti Mabar Ramadan ini, kita diingatkan bahwa menjadi religius yang moderat bukan berarti kehilangan semangat. Justru di tengah dunia yang bising dan penuh polarisasi, memilih jalan tengah yang adil dan berempati adalah bentuk keberanian
Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas karakter generasinya
Moderasi memang penting selain perihal saring sebelum sharing. Apalagi soal radikalisasi ini ternyata bisa lewat cara-cara alus juga, mesti hati-hati. Seru banget acaranya ya kak. Senang bisa ketemu di acara yang keren ini. Ayooo ketemu lagi nanti 😊
BalasHapus