Berzakat Itu Kalcer: Saat Ramadan Menjadi Momentum Berbagi, Bukan Sekadar Kewajiban




Semakin bertambah usia, saya merasa ramadan bukan lagi sekadar soal hitung-hitungan hari puasa. Bukan cuma sahur, buka, atau menu takjil favorite. Tapi lebih ke perasaan, perasaan ingin jadi orang yang lebih baik, perasaan ingin lebih banyak berbagi, dan perasaan nggak tega kalau lihat orang lain kesusahan.

Ada semacam alarm di hati yang otomatis aktif setiap ramadan datang. “Sudah cukup belum bantu orang hari ini?" Pertanyaan itu sederhana, tapi selalu bikin saya mikir.

Dan siang itu, saat menghadiri Konferensi Pers Ramadan dari Dompet Dhuafa di Top Golf Jakarta, pertanyaan itu terasa makin keras suaranya.

Di tengah ruangan, terpampang tema besar: “Berzakat Itu Kalcer.” Saya sempat senyum sendiri. Kata “kalcer” yang biasanya kita dengar di tongkrongan atau media sosial, sekarang berdampingan dengan kata “zakat”, kombinasi yang unik, tapi justru terasa dekat. Dan mungkin… itu memang tujuannya.


Ramadan yang Datang Bersama Realita

Ramadan tahun ini nggak datang di situasi yang ringan. Harga kebutuhan pokok naik, kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih, dan akhir tahun lalu kita sama-sama menyaksikan kabar duka dari Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat akibat banjir dan longsor, banyak rumah rusak, banyak keluarga kehilangan tempat tinggal. Setiap lihat berita seperti itu, rasanya hati ikut sesak. Saya langsung kebayang, “Kalau itu terjadi sama keluarga saya, gimana ya?”

Di situlah saya sadar, berbagi itu bukan lagi pilihan tambahan. Tapi kebutuhan, karena kita mungkin baik-baik saja hari ini, tapi orang lain belum tentu.


Zakat Bukan Beban, Tapi Budaya

Jujur, saya suka dari konsep “Berzakat Itu Kalcer” adalah cara pandangnya. Zakat, infak, sedekah, wakaf, semuanya nggak lagi terasa kaku atau berat. Tapi dibingkai sebagai gaya hidup, sebagai budaya dan sebenarnya, kalau dipikir-pikir dari dulu orang Indonesia memang punya budaya itu.

Kita terbiasa patungan, terbiasa kirim makanan ke tetangga, terbiasa bantu tanpa diminta. Artinya, berbagi itu sudah mendarah daging. Cuma sekarang dikemas lebih rapi dan terarah lewat lembaga.

Dalam sesi pemaparan, Prof. Abu Rokhmad menjelaskan potensi zakat nasional yang nilainya luar biasa besar. Kalau dikelola maksimal, bisa jadi solusi konkret untuk pengentasan kemiskinan. Saya sampai merinding dengarnya. Ternyata hal kecil yang kita keluarkan tiap bulan bisa punya dampak sebesar itu kalau dikumpulkan bersama, rasanya seperti diingatkan: “Jangan remehkan kebaikan kecil.”


Kolaborasi Biar Dampaknya Lebih Luas


Saya juga sadar, gerakan kebaikan nggak bisa jalan sendirian. Makanya kolaborasi Dompet Dhuafa dengan Maybank Syariah merupakan wujud nyata kolaborasi kebaikan yang menyatukan kekuatan perbankan dan lembaga filantropi terpercaya. 

Sinergi ini menjadikan pembayaran zakat, infak dan sedekah dapat dilakukan secara lebih praktis, rutin, dan transparan. Jadi donasi sekarang literally tinggal klik. Apalagi melalui pemanfaatan Bank as a Service (BaaS) dan layanan Open API Account Binding, rekening nasabah dapat terhubung langsung dengan aplikasi Dompet Dhuafa, termasuk melalui Sedekah Rutin Terjadwal yang memungkinkan donasi otomatis.  Dengan pilihan sedekah harian, mingguan, maupun bulanan langsung dari rekening Maybank Indonesia.

Sebagai ibu yang sehari-harinya juggling antara urus anak, kerjaan, dan bikin konten, saya ngerasa kemudahan ini membantu banget, Kadang kita mau berbagi, tapi waktunya mepet, kalau aksesnya gampang, niat baik jadi lebih cepat dieksekusi.

Selain itu cerita dari relawan seperti Aliyah Sayuti juga bikin hati hangat. Katanya, setiap turun ke lapangan, bukan cuma penerima manfaat yang bahagia. Relawannya juga ikut “pulang dengan hati penuh”. Saya langsung mengangguk pelan, karena memang, sering kali kita datang untuk membantu… tapi justru kita yang merasa paling ditolong. Ditolong untuk lebih bersyukur.


Ramadan yang Lebih Bermakna


Program-program Dompet Dhuafa pun terasa dekat dengan keseharian: Tebar Zakat Fitrah, bantuan anak yatim, dukungan untuk driver ojek online lewat Ber-ojol, pemulihan daerah bencana, sampai borong dagangan UMKM kecil.


Bukan cuma memberi, tapi memberdayakan. Bukan cuma sesaat, tapi berkelanjutan. Dan buat saya, itu esensi berbagi yang sebenarnya. 

Pulang dari acara itu, saya merenung cukup lama di perjalanan. Ternyata ramadan memang selalu berhasil “menegur” saya dengan cara yang lembut. Mengingatkan kalau hidup bukan cuma tentang apa yang kita punya, tapi apa yang bisa kita bagi. Kalau berbagi sudah jadi kalcer, mungkin dunia nggak akan terasa sekeras ini.

Dan semoga, ramadan kali ini, kita semua bisa jadi alasan seseorang tersenyum hari ini.

Komentar

Postingan Populer