Hadir di Indonesia Humanitarian Summit 2025: Ketika Filantropi Naik ke Level Pemberdayaan
Ada momen-momen tertentu yang membuat saya pulang dengan perasaan penuh, bukan hanya karena acaranya rapi dan megah, tetapi karena isi diskusinya benar-benar menampar kesadaran. Salah satunya adalah ketika saya mendapat undangan untuk menghadiri Indonesia Humanitarian Summit 2025 & Philanthropy Report dengan tema besar “Empowerment to the Next Level”, yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa bersama Nusantara TV
Acara ini berlangsung pada Kamis, 15 Januari 2026, bertempat di Nusantara TV Ballroom, Jakarta Timur, dan dihadiri sekitar 300 peserta dari berbagai latar belakang. Mulai dari perwakilan pemerintah, lembaga kemanusiaan, NGO, akademisi, media, komunitas, hingga masyarakat umum. Ruang yang sama, dengan satu keresahan bersama: bagaimana filantropi bisa benar-benar menjawab tantangan zaman
Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja, Indonesia yang Ikut Terdampak
Sejak sesi pembuka, saya langsung dihadapkan pada realita global yang tidak bisa diabaikan. Dunia sedang berada di persimpangan besar: inflasi tinggi, konflik berkepanjangan, perubahan iklim, dan ketidakpastian geopolitik. Semua itu bukan hanya berita di layar, tapi nyata dampaknya hingga ke Indonesia
PHK masih terjadi di banyak sektor, terutama industri manufaktur dan digital. Daya beli masyarakat melemah, lapangan kerja makin terbatas, dan ketimpangan ekonomi semakin terasa. Yang paling mengusik saya adalah fakta bahwa kelas menengah yang selama ini menjadi penopang ekonomi nasional kini banyak yang tergelincir menjadi kelompok rentan miskin
Meski data BPS per Maret 2025 mencatat angka kemiskinan turun menjadi 8,47% atau 23,85 juta jiwa, berbagai pemaparan di forum ini menunjukkan bahwa data tidak selalu sejalan dengan realitas di lapangan. Biaya hidup terus naik, sementara akses pekerjaan tidak merata, terutama di daerah-daerah dengan peluang ekonomi terbatas
Filantropi Tidak Cukup Sekadar Memberi
Di sinilah peran lembaga filantropi diuji. Saya menangkap satu benang merah kuat dari seluruh sesi diskusi: memberi bantuan saja tidak lagi cukup
Dompet Dhuafa, dalam pemaparannya, menunjukkan bagaimana filantropi harus bergerak ke arah pemberdayaan yang terukur, berdampak, dan berkelanjutan, mulai dari sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial, dakwah, hingga budaya. Bukan hanya membantu dhuafa bertahan, tetapi mendorong mereka keluar dari jerat kemiskinan dan bertransformasi menuju kehidupan yang lebih bermartabat
Diskusi demi diskusi menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat dalam isu kemanusiaan bukan sekadar pilihan, melainkan amanat nilai kebangsaan. Solidaritas sosial adalah fondasi yang tidak boleh rapuh, terutama di tengah krisis berlapis seperti saat ini
Transparansi, Akuntabilitas, dan Kepercayaan Publik
Salah satu hal yang paling saya apresiasi dari Indonesia Humanitarian Summit 2025 adalah keberanian Dompet Dhuafa untuk membuka data dan kinerja melalui Public Expose dan Philanthropy Report 2025
Kepercayaan publik yang terus dijaga ini tercermin dari berbagai penghargaan yang diraih sepanjang tahun 2025, di antaranya:
• SDGs Action Award 2025 tingkat nasional dan provinsi oleh Bappenas
• Top Brand Award 2025 kategori Zakat dan Amal
• Nazir Wakaf Terbaik di BWI Award 2025
• Dai Pemberdaya Maluku dalam Festival Ekonomi Syariah Kawasan Timur Indonesia (BI)
• Kolaborasi Pengiriman 1.000 Dai/Daiyyah ke Wilayah 3T bersama Kemenag RI
Tak hanya itu, Dompet Dhuafa juga menerapkan standar Good Corporate Governance (GCG) dan Good Risk Management (GRM), serta mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015, ISO 27001:2022, dan tengah mengimplementasikan ISO 37001 untuk anti-penyuapan dan pencegahan tindak terorisme. Sebagai tamu undangan, saya melihat ini sebagai upaya serius menjaga akuntabilitas dan profesionalisme lembaga filantropi
Empowerment to the Next Level: Harapan yang Dibawa Pulang
Rangkaian acara mulai dari Talkshow Poverty Outlook, Humanitalk, pameran program pemberdayaan, hingga pentas seni dan budaya, membuat saya semakin yakin bahwa filantropi Indonesia sedang bergerak ke arah yang tepat
Indonesia Humanitarian Summit 2025 bukan sekadar forum tahunan, tapji ruang refleksi dan ajakan kolaborasi. Bahwa kemiskinan tidak bisa ditangani sendiri-sendiri. Bahwa pemberdayaan membutuhkan keberanian untuk naik level lebih strategis, lebih berdampak, dan lebih manusiawi.
Saya pulang dari acara ini dengan satu keyakinan baru
ketika filantropi dikelola dengan visi, transparansi, dan kolaborasi, maka harapan itu nyata




Komentar
Posting Komentar